Pernahkah kita melihat seseorang yang rajin beribadah, gemar bersedekah, bahkan telah menunaikan haji berkali-kali, namun masih tersangkut kasus korupsi? Atau mungkin tanpa sadar, kita sendiri pernah merasa bahwa karena sudah sholat lima waktu atau rutin puasa Senin-Kamis, kita jadi merasa 'lebih aman' untuk melakukan pelanggaran kecil seperti menyontek, memanipulasi laporan, atau mengabaikan ketidakadilan di sekitar kita.
Fenomena ini bukanlah hal yang aneh, melainkan sebuah kecenderungan psikologis yang dalam penelitian modern disebut sebagai moral licensing. Sebuah mekanisme mental di mana kita merasa telah mengumpulkan 'tabungan moral' setelah berbuat baik, sehingga memberi kita semacam izin tak terucap untuk melakukan hal yang kurang baik setelahnya.
Bayangkan moralitas kita seperti sebuah neraca tak kasat mata. Setiap kali kita melakukan kebaikan baik itu sedekah, ibadah, membantu sesama, kita merasa neraca itu bergerak ke arah positif. Lalu, tanpa sadar, kita merasa punya saldo yang bisa digunakan untuk menoleransi kesalahan kita sendiri.
Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan beragama di masyarakat kita. Agama, yang seharusnya menjadi panduan untuk menjadi manusia yang lebih baik, justru bisa berubah menjadi kalkulator amal yang menghitung berapa banyak pahala yang kita kumpulkan, seolah-olah itu adalah tiket untuk membeli pembebasan dari dosa-dosa lain. Kita terlena pada ritual dan simbol-simbol kesalehan, sambil melupakan esensi agama yang sebenarnya. Mengubah perilaku dan karakter kita sehari-hari.
Kita sering melihat contoh nyata. Seorang pejabat yang mendanai pembangunan masjid megah, tetapi juga menjadi tersangka korupsi dana publik. Atau seorang pengusaha yang rajin umrah, tetapi masih mempraktikkan kecurangan dalam bisnisnya. Mereka mungkin tidak merasa sebagai orang jahat, karena di dalam pikiran mereka, "Saya sudah banyak beramal, jadi wajar jika sedikit melanggar". Ini adalah bentuk pembenaran diri yang halus dan berbahaya.
Agama tidak pernah mengajarkan bahwa sedekah bisa membersihkan harta haram, atau bahwa ibadah ritual bisa menjadi tameng untuk menutupi ketidakjujuran. Justru, agama menekankan bahwa ibadah harus membawa dampak nyata. Sholat mencegah perbuatan keji, zakat membersihkan harta dan jiwa, puasa melatih kejujuran dan empati.
Lalu, mengapa kita mudah terjebak dalam pola pikir seperti ini? Salah satu penyebabnya adalah karena kita hidup dalam masyarakat yang sering kali mengagungkan kesalehan simbolik. Kita lebih mudah memuji seseorang yang terlihat religius, tanpa menelusuri apakah kesalehan itu tercermin dalam integritas dan keadilan dalam tindakannya.
Kita juga terbiasa memisahkan agama dari urusan duniawi, seolah-olah ibadah adalah urusan vertikal dengan Tuhan, sementara urusan horizontal seperti bekerja, berbisnis, atau bermasyarakat bisa dijalankan dengan standar moral yang berbeda. Padahal, agama mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita merefleksikan kembali makna ibadah dalam hidup kita. Ibadah bukanlah sekadar rutinitas yang kita lakukan untuk menambah tabungan pahala, melainkan sebuah proses transformasi diri yang harus terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Setiap kali kita sholat, ingatlah bahwa sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Setiap kali kita bersedekah, pastikan bahwa sumber harta kita halal dan niat kita tulus untuk membantu, bukan untuk pencitraan.
Mari kita jadikan agama sebagai pembimbing hidup yang utuh, bukan sebagai topeng yang menutupi wajah asli kita. Dengan begitu, kesalehan kita tidak hanya tampak di masjid atau di media sosial, tetapi juga dalam setiap keputusan, tindakan, dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari masyarakat.

Komentar
Posting Komentar